24 Juli 2008

Perang Bintang Pilpres 2009 (1)

Detiknews.com Jakarta - Majunya Prabowo Subianto di Pilpres menggenapkan daftar para jenderal yang akan bersaing di Pilpres 2009. Sebelumnya, Sutiyoso dan Wiranto telah lebih dahulu menyatakan diri maju ke arena Pilpres menghadapi incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga pensiunan jenderal.Hadirnya Prabowo di tengah persaingan membuat peta politik di Pilpres diprediksi banyak kalangan akan semakin seru. Sebab pola yang dilakukan para pensiunan TNI dalam mendulang suara pemilih akan sama, yakni berdasarkan pengalaman mereka saat dinas di militer.Sepertinya perang tidak jauh berbeda dengan pemilu. Perlu strategi yang matang untuk bisa mengungguli para pesaing dalam perolehan suara. Untuk itu para calon harus membentuk sebuah tim yang bertugas mencari kekuatan dan kelemahan calon dan lawan-lawannya. Setelah itu merancang strategi bagaimana caranya supaya jagonya meraih popularitas.

Dalam urusan strategi, kalangan militer bisa dibilang sebagai ahlinya. Jangan heran bila tokoh-tokoh politik, terutama yang berlatar belakang tentara, banyak merekrut rekan-rekannya dari pensiunan militer untuk mengisi tim sukses atau tim kampanyenya.

Sebut saja Sutiyoso, yang menggandeng mantan Kassospol ABRI Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, sebagai ketua tim suksesnya bersama Mayjen Yusuf Kartanegara.

Sedangkan Wiranto didukung mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy, mantan Wakil Pangab Jenderal (Purn) Fachrul Razi, mantan Kasad Jenderal (Purn) Subagyo HS, mantan Kasal Laksamana Bernard Kent Sondakh, mantan Kapolri Jenderal (Pol) Chairul Ismail, serta Budi Santoso, Ary Mardjono, dan Abu Hartono.

Prabowo sendiri di sokong beberapa koleganya di Kopassus. Misalnya Muhdi PR, mantan Danjen Kopassus yang juga mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Mayjen Muchdi PR. Muchdi yang kini ditahan polisi karena diduga terlibat kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, saat ini duduk sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, kendaraan politik Prabowo.Adapun SBY yang akan mencalonkan diri kembali di Pilpres 2009 tentu saja punya sederet nama mantan petinggi militer di belakangnya. Baik yang dulu pernah ikut membantu pemenangan Pilpres 2004 maupun rekrutan baru yang akan membantunya menghadapi pilpres mendatang."Masuknya kalangan militer ke jajaran tim sukses salah satu calon yang juga berasal dari militer karena adanya hubungan emosional," jelas Sukardi Rinakit, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate.

Sedangkan maraknya para pensiunan jenderal atau militer yang maju ke ajang pilpres, Sukardi melihat hal ini merupakan gejala mesianisme. Para pensiunan jenderal ini merasa yakin bisa menyelesaikan masalah bangsa. Sehingga mereka berusaha tampil untuk mengatasi beragam masalah yang saat ini sedang dihadapi bangsa.Nah, salah satu tawaran yang mereka ajukan adalah leadership atau sikap kepemimpinan.

Maklum saat mereka aktif di militer para calon masing-masing punya pengalaman dalam memimpin.
Misalnya Sutiyoso yang terakhir menjabat Pangdam plus mantan Gubernur DKI Jakarta. Prabowo pernah menjabat Pangkostrad serta Danjen Kopassus.
Sementara Wiranto pernah menjabat sebagai Menhankam/ Pangab."Dari pengalaman yang mereka punya diharapkan bisa mengatasi aneka persoalan yang sedang dihadapi bangsa saat ini," ujar Sukardi. Lantas bagaimana peluangnya? Sukardi melihat masing-masing punya peluang yang sama. Dan dari sasaran pemilih mereka juga punya segmen yang berbeda.

Misalnya Wiranto yang berupaya meraih dukungan dari kalangan keluarga besar TNI dan massa pendukung Golkar. Saat ini sejumlah posko Hanura berdiri di sejumlah kompleks perumahan prajurit TNI. Padahal pada 2004, posko-posko itu digunakan untuk penggalangan massa partai Demokrat kendaraan politik SBY.

Beralihnya sejumlah posko di sejumlah kompleks militer menandakan pergeseran dukungan sebagian keluarga besar TNI terhadap SBY.

Kondisi serupa diperkirakan akan terjadi di kantong-kantong massa Golkar. "Untuk merebut massa pendukung Golkar, bagi Wiranto bukan langkah sulit. Sebab bagaimanapun juga ia pernah memenangkan konvensi penjaringan capres dari Golkar 2004 silam," kata Muhammad Qodari dari Indo Barometer.

Sedangkan Prabowo dalam mencari massa pemilih cenderung memanfaatkan jaringan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang ia pimpin. Para petani dan nelayan diharapkan menjadi kantong-kantong suara bagi Prabowo. "Kalau Prabowo serius dalam implementasinya. Perolehan suara Partai Gerindra dari kalangan petani dan nelayan akan sangat signifikan," lanjut Qodari.

Adapun Sutiyoso punya sasaran tersendiri. Menurut Syarwan Hamid, ketua tim sukses Sutiyoso, untuk saat ini pihaknya lebih memfokuskan diri di wilayah Jawa. Untuk daerah-daerah lain di luar pulau hanya daerah-daerah tertentu saja.Alasan Syarwan, sosok Sutiyoso jauh lebih dikenal di pulau Jawa. Selain itu, kata Syarwan, kondisi keuangan Bang Yos tidak seperti calon-calon lainnya, seperti Wiranto, Prabowo atau SBY yang punya banyak dana untuk melakukankampanye."Supaya tidak kehabisan tenaga (dana) untuk saat ini kami tidak beriklan di media seperti calon-calon yang lain," jelas Syarwan. Mantan Wakil Ketua DPR di masa Orde Baru ini menambahkan, untuk melakukan promosi dan sosialisasi Sutiyoso, saat ini baru sebatas mendatangi basis massa secara langsung.(ddg/iy) -->


Tidak ada komentar: